KKN #4

Kegiatan Rutin?

Yang pasti saja lah, yang namanya manusia akan rutin melakukan (atau paling tidak melihat) kegiatan rutin yang akan saya jelaskan berikut. Bukan tentang program saya, tapi tentang kehidupan ‘biasa’ saya sepanjang KKN. Enjoy!

1. Nyuci pakaian

Ibu Saya selalu bilang di kampungnya sungainyajernih, tidak seperti di Banjarmasin yang berwarna kecoklatan akibat tanahnya yang lalu akhirnya saya buktikan sendiri saat ke kampunya di Tanah Jawa, Siantar, Sumatera Utara. Disini, di tempat KKN saya, saya dan teman-teman saya membiasakan untuk mencuci pakaian di kali karena air di rumah yang harus dibeli akan semakin boros saja kalau kami mencuci di rumah.

Nah, saya sendiri terbiasa dengan yang namanya mencuci pakaian sendiri jadi gak masalah. Malah menyenangkan sekali. Jadi hiburan tersendiri bagi kami-kami yang tidak pernah memiliki pengalaman serupa. Hahaha… 😀

2. Nyuci Piring.

Sebenarnya seperti kebanyakan cara nyuci piring lainnya, kami harus menggunakan sabun S*nl*ght lalu kemudian dibilas. Airnya ini kadang harus ditimba. Kadang lho ya… Biasanya kalau kami cewek-cewek sih memilih untuk langsung ambil saja dari galon gede dekat sumur. Kalau cowok-cowok, kadang nimba katanya sih buat latihan otot *hueekkkkk…

Awalnya sih kami gantian nyuci piring sama cowok-cowok, tapi semakin ke sini kami, cewek-cewek, jadi nyuci terus. Gak apa sih, kami menikmatinya, Hehehe… 😛

3. Pup dan teman-temannya.

Sebelumnya saya sudah pernah cerita tentang bagaimana keadaan kamar mandi dan wc di tempat KKN saya bukan?  Nah, kali ini akan saya tampilkan gambarnya…

Hahaha, gak terlalu terlihat ya?

Gak apa lah, biar saya saja yang menikmatinya. Pintu yang terbuka itu adalah wc, sementara pintu di sampingnya itu adalah pintu kamar mandi. Pembuangan airnya langsung ke kebon Bapak di belakang, jadi kami bisa melihat air habis kami mandi mengalir di kebon. Warna salurannya hitam, padahal warna tanahnya coklat dan warna air habis sabun kami mandi adalah putih, ada yang tahu sebabnya kenapa?

I have fun with all this routine stuffs.

How about you? 😀

KKN #3

Ketika sudah di lapangan hal pertama yang pasti terjadi adalah penyesuaian. Seperti itu juga yang saya rasakan. Penyesuaian yang paling terasa adalah dalam hal bahasa. Kadang saya mengkhayal :

orang : “mboten ngertos ki mesti….”

saya: “ngerti kok..” *Gini doang mah ane gerti gan….. :p

orang : “&)(*^(&%)&$%#@@!%^@!^^*(^)^%$#@%, ngerti gak ?”

saya : … *arghhhhhhh…. Tolong ganti subtitlenya!

Apapun itu yang jelas saya menjadi belajar banyak bahasa Jawa, belajar banyak budaya Jawa, belajar banyak tentang kehidupan dusun. Gak jauh beda sih sebenarnya sama kehidupan kota. Orang kota kerja di kantor, orang dusun kerja di sawah. Orang kota main di mall, orang dusun main di kali. Orang Kota terbiasa dengan terangnya lampu dan mudahnya akses  air sementara orang dusun terbiasa dengan terangnya bintang dan jernihnya air sungai. Sebenarnya akses air gak susah sih di sini hanya mahal saja. Air dibeli per truk (mirip truk bensinnya Pertamina) yang harganya sekitar 120rbu. Kalau dibandingkan dengan di Kota, katanya sih lebih mahal. Namun belum ada pembuktian kongkrit apakah harga tersebut lebih mahal.

Saya tinggal di rumah yang sederhana namun adem karena penuh dengan pohon. Kamar mandi yang bagian atasnya agak terbuka yang kadang membuat saya kedinginan mendadak karena ada angin lewat. Dapur yang apabila kita berada di dalamnya kita harus menggunakan sendal, karena berlantaikan tanah. Tapi selama saya berada di sini, saya betah-betah saja. Malah kadang saya terlalu menikmati sampai melupakan bahwa pekerjaan saya masih sangat menumpuk.