KKN #3

Ketika sudah di lapangan hal pertama yang pasti terjadi adalah penyesuaian. Seperti itu juga yang saya rasakan. Penyesuaian yang paling terasa adalah dalam hal bahasa. Kadang saya mengkhayal :

orang : “mboten ngertos ki mesti….”

saya: “ngerti kok..” *Gini doang mah ane gerti gan….. :p

orang : “&)(*^(&%)&$%#@@!%^@!^^*(^)^%$#@%, ngerti gak ?”

saya : … *arghhhhhhh…. Tolong ganti subtitlenya!

Apapun itu yang jelas saya menjadi belajar banyak bahasa Jawa, belajar banyak budaya Jawa, belajar banyak tentang kehidupan dusun. Gak jauh beda sih sebenarnya sama kehidupan kota. Orang kota kerja di kantor, orang dusun kerja di sawah. Orang kota main di mall, orang dusun main di kali. Orang Kota terbiasa dengan terangnya lampu dan mudahnya akses  air sementara orang dusun terbiasa dengan terangnya bintang dan jernihnya air sungai. Sebenarnya akses air gak susah sih di sini hanya mahal saja. Air dibeli per truk (mirip truk bensinnya Pertamina) yang harganya sekitar 120rbu. Kalau dibandingkan dengan di Kota, katanya sih lebih mahal. Namun belum ada pembuktian kongkrit apakah harga tersebut lebih mahal.

Saya tinggal di rumah yang sederhana namun adem karena penuh dengan pohon. Kamar mandi yang bagian atasnya agak terbuka yang kadang membuat saya kedinginan mendadak karena ada angin lewat. Dapur yang apabila kita berada di dalamnya kita harus menggunakan sendal, karena berlantaikan tanah. Tapi selama saya berada di sini, saya betah-betah saja. Malah kadang saya terlalu menikmati sampai melupakan bahwa pekerjaan saya masih sangat menumpuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s